Categories
Berita

Tradisi Maudu Lompoa tetap digelar di Takalar


Takalar (ANTARA) – Pandemi COVID-19 tidak menghalangi warga untuk menggelar tradisi Maudu Lompoa atau Maulid Besar guna memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW di Desa Cikoang, Kecamatan Mangara’bombang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Minggu.

Di sela acara puncak perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di Desa Cikoang, Ketua Panitia sekaligus Ketua Adat M Yunus Aidid Karaeng Dg Sibali menjelaskan bahwa tahun ini Maudu Lompoa digelar dengan membatasi jumlah undangan dan pengunjung.

Camat Mangara’bombang Syachrir Mile mengatakan bahwa imbauan juga sudah disampaikan kepada para tamu dan pengunjung acara Maudu Lompoa agar mematuhi protokol kesehatan untuk mencegah penularan COVID-19.

“Kami selalu mensosialisasikan untuk mengajak masyarakat mengikuti protokol masyarakat, termasuk pada kegiatan Maulid ini, dengan melibatkan pihak keamanan untuk membantu melakukan pemantauan di lapangan,” katanya.

Yunus menjelaskan bahwa Maudu Lompoa merupakan bagian dari tradisi keturunan Sayyid Djalaluddin bin Muhammad Wahid Al’ Aidid, yang datang ke Cikoang untuk menyebarkan ajaran Agama Islam pada abad ke-16.

Maudu Lompoa mencakup pelantunan selawat, pawai perahu hias, lomba tangkap bebek di Sungai Cikoang, dan perebutan isi julung-julung (kapal kayu) yang biasanya berupa aneka makanan dan kain sarung.

“Sebelum acara tradisi Maudu Lompoa ini, terlebih dahulu digelar mandi-mandi syafar untuk mensucikan diri,” kata Mutmaina, warga Desa Cikoang.

Baca juga:
Maudu Lompoa Cikoang sedot pengunjung luar provinsi
Menag ajak umat Islam perbanyak selawat pada peringatan maulid Nabi

Pewarta: Suriani Mappong
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2020



Source link

Takalar (ANTARA) – Pandemi COVID-19 tidak menghalangi warga untuk menggelar tradisi Maudu Lompoa atau Maulid Besar guna memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW di Desa Cikoang, Kecamatan Mangara’bombang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Minggu.

Di sela acara puncak perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di Desa Cikoang, Ketua Panitia sekaligus Ketua Adat M Yunus Aidid Karaeng Dg Sibali menjelaskan bahwa tahun ini Maudu Lompoa digelar dengan membatasi jumlah undangan dan pengunjung.

Camat Mangara’bombang Syachrir Mile mengatakan bahwa imbauan juga sudah disampaikan kepada para tamu dan pengunjung acara Maudu Lompoa agar mematuhi protokol kesehatan untuk mencegah penularan COVID-19.

“Kami selalu mensosialisasikan untuk mengajak masyarakat mengikuti protokol masyarakat, termasuk pada kegiatan Maulid ini, dengan melibatkan pihak keamanan untuk membantu melakukan pemantauan di lapangan,” katanya.

Yunus menjelaskan bahwa Maudu Lompoa merupakan bagian dari tradisi keturunan Sayyid Djalaluddin bin Muhammad Wahid Al’ Aidid, yang datang ke Cikoang untuk menyebarkan ajaran Agama Islam pada abad ke-16.

Maudu Lompoa mencakup pelantunan selawat, pawai perahu hias, lomba tangkap bebek di Sungai Cikoang, dan perebutan isi julung-julung (kapal kayu) yang biasanya berupa aneka makanan dan kain sarung.

“Sebelum acara tradisi Maudu Lompoa ini, terlebih dahulu digelar mandi-mandi syafar untuk mensucikan diri,” kata Mutmaina, warga Desa Cikoang.

Baca juga:
Maudu Lompoa Cikoang sedot pengunjung luar provinsi
Menag ajak umat Islam perbanyak selawat pada peringatan maulid Nabi

Pewarta: Suriani Mappong
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2020