Categories
Berita

Swiatek tetap anggap dirinya “underdog” setelah menjuarai French Open


Ini merupakan sosok underdog lain yang memenangi Grand Slam pada tenis putri

Jakarta (ANTARA) – Petenis muda Polandia Iga Swiatek tetap menganggap dirinya sebagai pihak yang tidak diunggulkan setelah menjuarai French Open 2020 dengan kemenangan 6-4, 6-1 atas Sofia Kenin pada pertandingan final, Sabtu.

Swiatek yang menghuni peringkat 54 dunia, merupakan petenis putri dengan peringkat terendah yang mampu menjuarai French Open di era modern. Ia sekaligus menjadi sosok kesembilan yang pertama kali menjuarai ajang utama dalam 14 Grand Slam terakhir.

“Ini merupakan sosok underdog lain yang memenangi Grand Slam pada tenis putri. Ini sekarang sering terjadi, yang merupakan hal gila,” kata petenis 19 tahun itu seperti dikutip AFP.

“Dua tahun lalu saya memenangi Grand Slam junior (di Wimbledon), dan sekarang saya ada di sini. Rasanya itu belum lama terjadi,” katanya pula.

Swiatek merupakan juara French Open termuda sejak Monica Seles mengangkat trofi bergengsi itu sebagai petenis 18 tahun pada 1992. Ia juga merupakan juara remaja pertama sejak Iva Majoli pada 1997.
Baca juga: Swiatek jadi petenis Polandia pertama menangi Grand Slam

Pencapaian Swiatek semakin sempurna, karena ia menjadi petenis Polandia pertama yang memenangi gelar Grand Slam.

Ia melampaui pencapaian kompatriotnya Jadwiga Jedrzejowska yang finis di posisi runner up pada French Open 1939.

Swiatek merupakan petenis Polandia putri kedua yang mencapai final Grand Slam di era terbuka, setelah Agnieszka Radwanska pada Wimbledon 2012. Sebelumnya, ia tidak pernah melalui fase 16 besar.

Lawannya di final Kenin berbesar hati dengan kekalahan tersebut, dan tidak sungkan memuji Swiatek.

“Saya hanya ingin memberi ucapan selamat kepada Iga untuk turnamen yang hebat dan pertandingan yang hebat. Anda bermain dengan sangat baik,” kata juara Australia Open itu.
Baca juga: Swiatek capai final putri French Open, termuda dalam 19 tahun terakhir

Pewarta: A Rauf Andar Adipati
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2020



Source link

Ini merupakan sosok underdog lain yang memenangi Grand Slam pada tenis putri

Jakarta (ANTARA) – Petenis muda Polandia Iga Swiatek tetap menganggap dirinya sebagai pihak yang tidak diunggulkan setelah menjuarai French Open 2020 dengan kemenangan 6-4, 6-1 atas Sofia Kenin pada pertandingan final, Sabtu.

Swiatek yang menghuni peringkat 54 dunia, merupakan petenis putri dengan peringkat terendah yang mampu menjuarai French Open di era modern. Ia sekaligus menjadi sosok kesembilan yang pertama kali menjuarai ajang utama dalam 14 Grand Slam terakhir.

“Ini merupakan sosok underdog lain yang memenangi Grand Slam pada tenis putri. Ini sekarang sering terjadi, yang merupakan hal gila,” kata petenis 19 tahun itu seperti dikutip AFP.

“Dua tahun lalu saya memenangi Grand Slam junior (di Wimbledon), dan sekarang saya ada di sini. Rasanya itu belum lama terjadi,” katanya pula.

Swiatek merupakan juara French Open termuda sejak Monica Seles mengangkat trofi bergengsi itu sebagai petenis 18 tahun pada 1992. Ia juga merupakan juara remaja pertama sejak Iva Majoli pada 1997.
Baca juga: Swiatek jadi petenis Polandia pertama menangi Grand Slam

Pencapaian Swiatek semakin sempurna, karena ia menjadi petenis Polandia pertama yang memenangi gelar Grand Slam.

Ia melampaui pencapaian kompatriotnya Jadwiga Jedrzejowska yang finis di posisi runner up pada French Open 1939.

Swiatek merupakan petenis Polandia putri kedua yang mencapai final Grand Slam di era terbuka, setelah Agnieszka Radwanska pada Wimbledon 2012. Sebelumnya, ia tidak pernah melalui fase 16 besar.

Lawannya di final Kenin berbesar hati dengan kekalahan tersebut, dan tidak sungkan memuji Swiatek.

“Saya hanya ingin memberi ucapan selamat kepada Iga untuk turnamen yang hebat dan pertandingan yang hebat. Anda bermain dengan sangat baik,” kata juara Australia Open itu.
Baca juga: Swiatek capai final putri French Open, termuda dalam 19 tahun terakhir

Pewarta: A Rauf Andar Adipati
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2020