Categories
Berita

Restoran melayang Dinner in the Sky di Belgia kembali beroperasi


Jakarta (ANTARA) – Masyarakat Belgia yang ingin merasakan pengalaman makan berbeda bisa kembali menikmati hidangan sembari duduk melayang 50 meter di atas permukaan tanah di restoran unik yang kembali beroperasi setelah pandemi COVID-19.

Dinner in the Sky yang berbasis di Belgia, dibuat di 60 negara sejak berdiri pada 2006 lalu, membuat pengunjung serasa berada di atraksi menegangkan di taman bermain. Bedanya, mereka menikmati ketinggian sambil mengisi perut.

Para tamu terikat di kursi dan meja yang diangkat derek, sementara koki ternama memasak dan menyajikan makanan dari area tengah.

Restoran melayang ini bisa menampung 22 orang di sepanjang perimeter, namun di tengah pandemi COVID-19, maksimal hanya 32 tamu yang bisa memesan meja berkapasitas masing-masing empat orang yang diletakkan berjauhan. Koki dan pelayan juga punya lebih banyak ruang untuk bergerak.

“Artinya, semua tamu seperti duduk dalam semacam gelembung,” kata co-CEO Stefan Kerkhof di pangkalan derek di pusat ibu kota Belgia.

Dinner in the Sky bisa didatangi untuk makan siang dan makan malam dengan biaya 295 euro (Rp5,1 juta) per tamu atau 150 euro (Rp2,6 juta) untuk koktail petang di akhir pekan.

Baca juga: Makan di luar sekarang lebih berbahaya daripada naik kendaraan umum

Baca juga: New York City mulai izinkan makan di dalam restoran

Baca juga: Pengusaha restoran sasar produk makanan beku untuk tambah omset

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2020



Source link

Jakarta (ANTARA) – Masyarakat Belgia yang ingin merasakan pengalaman makan berbeda bisa kembali menikmati hidangan sembari duduk melayang 50 meter di atas permukaan tanah di restoran unik yang kembali beroperasi setelah pandemi COVID-19.

Dinner in the Sky yang berbasis di Belgia, dibuat di 60 negara sejak berdiri pada 2006 lalu, membuat pengunjung serasa berada di atraksi menegangkan di taman bermain. Bedanya, mereka menikmati ketinggian sambil mengisi perut.

Para tamu terikat di kursi dan meja yang diangkat derek, sementara koki ternama memasak dan menyajikan makanan dari area tengah.

Restoran melayang ini bisa menampung 22 orang di sepanjang perimeter, namun di tengah pandemi COVID-19, maksimal hanya 32 tamu yang bisa memesan meja berkapasitas masing-masing empat orang yang diletakkan berjauhan. Koki dan pelayan juga punya lebih banyak ruang untuk bergerak.

“Artinya, semua tamu seperti duduk dalam semacam gelembung,” kata co-CEO Stefan Kerkhof di pangkalan derek di pusat ibu kota Belgia.

Dinner in the Sky bisa didatangi untuk makan siang dan makan malam dengan biaya 295 euro (Rp5,1 juta) per tamu atau 150 euro (Rp2,6 juta) untuk koktail petang di akhir pekan.

Baca juga: Makan di luar sekarang lebih berbahaya daripada naik kendaraan umum

Baca juga: New York City mulai izinkan makan di dalam restoran

Baca juga: Pengusaha restoran sasar produk makanan beku untuk tambah omset

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2020