Categories
Berita

Dolar menguat saat harapan vaksin dan stimulus meredup


Ini menjadi semakin jelas bagi orang-orang bahwa tidak ada stimulus sebelum pemilihan

New York (ANTARA) – Dolar AS menguat terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), ketika investor berubah bersikap hati-hati setelah penelitian COVID-19 dari Johnson & Johnson dihentikan sementara dan harapan meredup bahwa paket stimulus fiskal AS dapat dicapai sebelum pemilihan presiden.

Indeks-indeks ekuitas utama lebih rendah, sebagian karena penurunan saham J&J setelah perusahaan menghentikan penelitiannya karena penyakit yang tidak dapat dijelaskan pada partisipan, mengurangi optimisme tentang vaksin. Eli Lilly juga mengatakan uji klinis untuk pengobatan antibodi COVID-19 dijeda.

Baca juga: Dolar AS menguat tipis saat pedagang amati pembicaraan stimulus

Harga konsumen AS naik 0,2 persen pada September, sesuai dengan ekspektasi, merupakan kenaikan bulanan keempat berturut-turut, meskipun laju tersebut telah melambat di tengah kelesuan cukup besar dalam ekonomi karena pemulihan perlahan dari titik nadir yang disebabkan oleh penutupan virus corona.

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,528 persen, menempatkannya di jalur untuk persentase kenaikan harian terbesar dalam tiga minggu.

Daya tarik safe-haven mata uang AS telah dibatasi dengan meningkatnya ekspektasi bahwa kemenangan mantan Wakil Presiden AS Joe Biden pada 3 November akan membawa stimulus besar bagi ekonomi yang dilanda pandemi, memperkuat pasar saham dan selera risiko investor.

“Ini menjadi semakin jelas bagi orang-orang bahwa tidak ada stimulus sebelum pemilihan,” kata Erik Nelson, ahli strategi mata uang di Wells Fargo di New York, seperti dikutip Reuters.

“Saya tidak akan mengatakan bahwa pasar sepenuhnya mempertimbangkan stimulus atau sepenuhnya mempertimbangkan vaksin pada akhir tahun, tetapi mereka mungkin condong ke sisi yang lebih positif dari ekspektasi tersebut.”

Greenback telah bertahan dalam kisaran sekitar dua persen selama tiga minggu terakhir karena pembicaraan tentang kesepakatan fiskal telah berkembang secara tidak teratur.

Pemimpin Mayoritas Mitch McConnell mengatakan Senat AS yang dipimpin Partai Republik akan memberikan suara pada RUU bantuan ekonomi virus corona yang diperkecil dari jenis yang telah ditolak oleh Partai Demokrat saat mereka meminta bantuan triliunan.

Euro melemah 0,59 persen menjadi 1,1745 dolar, sementara yen Jepang melemah 0,17 persen terhadap greenback.

Sterling diperdagangkan terakhir pada 1,2938 dolar, turun 0,96 persen, setelah naik di atas 1,30 dolar untuk pertama kalinya dalam sebulan pada Jumat ketika tingkat pengangguran Inggris naik lebih tinggi dari yang diperkirakan menjadi 4,5 persen dalam tiga bulan hingga Agustus.

Selain itu, saat tenggat semakin dekat, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan kepada para menteri kabinetnya pada Selasa (13/10/2020) bahwa dia menginginkan kesepakatan perdagangan bebas dengan Uni Eropa dengan persyaratan yang tepat, tetapi mengakhiri tahun tanpa ada yang merasa “tidak takut.”

Baca juga: Emas anjlok di bawah 1.900 dolar AS, tertekan “greenback”, laporan IMF
Baca juga: Wall Street dibuka bervariasi, Indeks Dow Jones turun 98,70 poin

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020



Source link

Ini menjadi semakin jelas bagi orang-orang bahwa tidak ada stimulus sebelum pemilihan

New York (ANTARA) – Dolar AS menguat terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), ketika investor berubah bersikap hati-hati setelah penelitian COVID-19 dari Johnson & Johnson dihentikan sementara dan harapan meredup bahwa paket stimulus fiskal AS dapat dicapai sebelum pemilihan presiden.

Indeks-indeks ekuitas utama lebih rendah, sebagian karena penurunan saham J&J setelah perusahaan menghentikan penelitiannya karena penyakit yang tidak dapat dijelaskan pada partisipan, mengurangi optimisme tentang vaksin. Eli Lilly juga mengatakan uji klinis untuk pengobatan antibodi COVID-19 dijeda.

Baca juga: Dolar AS menguat tipis saat pedagang amati pembicaraan stimulus

Harga konsumen AS naik 0,2 persen pada September, sesuai dengan ekspektasi, merupakan kenaikan bulanan keempat berturut-turut, meskipun laju tersebut telah melambat di tengah kelesuan cukup besar dalam ekonomi karena pemulihan perlahan dari titik nadir yang disebabkan oleh penutupan virus corona.

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,528 persen, menempatkannya di jalur untuk persentase kenaikan harian terbesar dalam tiga minggu.

Daya tarik safe-haven mata uang AS telah dibatasi dengan meningkatnya ekspektasi bahwa kemenangan mantan Wakil Presiden AS Joe Biden pada 3 November akan membawa stimulus besar bagi ekonomi yang dilanda pandemi, memperkuat pasar saham dan selera risiko investor.

“Ini menjadi semakin jelas bagi orang-orang bahwa tidak ada stimulus sebelum pemilihan,” kata Erik Nelson, ahli strategi mata uang di Wells Fargo di New York, seperti dikutip Reuters.

“Saya tidak akan mengatakan bahwa pasar sepenuhnya mempertimbangkan stimulus atau sepenuhnya mempertimbangkan vaksin pada akhir tahun, tetapi mereka mungkin condong ke sisi yang lebih positif dari ekspektasi tersebut.”

Greenback telah bertahan dalam kisaran sekitar dua persen selama tiga minggu terakhir karena pembicaraan tentang kesepakatan fiskal telah berkembang secara tidak teratur.

Pemimpin Mayoritas Mitch McConnell mengatakan Senat AS yang dipimpin Partai Republik akan memberikan suara pada RUU bantuan ekonomi virus corona yang diperkecil dari jenis yang telah ditolak oleh Partai Demokrat saat mereka meminta bantuan triliunan.

Euro melemah 0,59 persen menjadi 1,1745 dolar, sementara yen Jepang melemah 0,17 persen terhadap greenback.

Sterling diperdagangkan terakhir pada 1,2938 dolar, turun 0,96 persen, setelah naik di atas 1,30 dolar untuk pertama kalinya dalam sebulan pada Jumat ketika tingkat pengangguran Inggris naik lebih tinggi dari yang diperkirakan menjadi 4,5 persen dalam tiga bulan hingga Agustus.

Selain itu, saat tenggat semakin dekat, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan kepada para menteri kabinetnya pada Selasa (13/10/2020) bahwa dia menginginkan kesepakatan perdagangan bebas dengan Uni Eropa dengan persyaratan yang tepat, tetapi mengakhiri tahun tanpa ada yang merasa “tidak takut.”

Baca juga: Emas anjlok di bawah 1.900 dolar AS, tertekan “greenback”, laporan IMF
Baca juga: Wall Street dibuka bervariasi, Indeks Dow Jones turun 98,70 poin

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020