Categories
Berita

Berkat “fuel card”, Pertamina yakin biosolar bersubsidi tepat sasaran


Kami mencatat konsumsi biosolar di Kepri turun dari 74,6 juta liter menjadi 69,9 juta liter. Menurun sebesar tujuh persen jika dibandingkan tahun lalu.

Batam (ANTARA) – PT Pertamina (Persero) meyakini konsumsi biosolar bersubsidi di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, lebih tepat sasaran saat ini berkat penerapan “fuel card” atau kartu bahan bakar minyak (BBM).

Unit Manager Comm, Rel & CSR Pertamina Marketing Operation Region (MOR) I, Roby Hervindo, Senin, menyatakan indikasi penyaluran tepat sasaran terlihat dari menurunnya konsumsi biosolar subsidi setelah kartu BBM diterapkan pada Januari – Agustus 2020, dibandingkan periode sama sebelum ada “fuel card”.

“Kami mencatat konsumsi biosolar di Kepri turun dari 74,6 juta liter menjadi 69,9 juta liter. Menurun sebesar tujuh persen jika dibandingkan tahun lalu,” kata Roby.

Baca juga: Alih kelola Blok Rokan, Pertamina mulai pengadaan barang dan jasa

Kota Tanjung Pinang menjadi daerah percontohan penerapan mekanisme BBM Biosolar bersubsidi tepat sasaran, melalui “fuel card”.

Untuk mendapatkan biosolar bersubsidi, konsumen harus menunjukkan kartu BBM. Dengan begitu pemerintah dapat mengontrol konsumsi kendaraan roda empat dan roda enam, sesuai dengan kriteria pengguna dalam Perpres no. 191 tahun 2014.

Sebelum mendapatkan “fuel card”, pemilik kendaraan juga harus menunjukkan bukti pelunasan pajak kendaraan. Ini sekaligus mendukung peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) melalui pajak bahan kendaraan bermotor (PBBKB) yang disetor Pertamina kepada Pemrov Kepri.

Baca juga: Pertamina jamin BBM-LPG aman di masa PSBB

Roby menyatakan penggunaan “fuel card” sejak awal tahun lalu juga terbukti menngkatkan PAD Kepri.

Pertamina mencatat hingga Juli 2020, setoran PBBKB Pertamina untuk Provinsi Kepri meningkat menjadi Rp174 miliar, tumbuh hampir 1,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp171 miliar.

Padahal mobilitas masyarakat tengah menurun akibat pandemi COVID-19. “Hal itu disebabkan dengan Fuel Card, hanya kendaraan yang berhak dan sudah membayar pajak yang bisa mengonsumsi Biosolar bersubsidi. Kendaraan lain, kemudian mulai beralih mengunakan BBM berkualitas Pertamina Dex dan Dexlite yang ramah lingkungan dan sesuai dengan peruntukkannya,” kata Roby.

Baca juga: Pertamina dorong penggunaan BBM berkualitas demi turunkan polusi

Pertamina juga mencatat peningkatan konsumsi Dexlite di Kepri, yang melonjak sebesar 48 persen dibanding tahun lalu. Kenaikan serupa juga dialami Pertamina Dex sebesar 22 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Kami mengajak masyarakat untuk terus meningkatkan penggunaan BBM berkualitas seperti Pertamina Dex dan Dexlite. Dengan begitu, masyarakat mendapat manfaat peningkatan PAD untuk pembangunan Provinsi Kepri. Plus penggunaan Dex dan Dexlite, bikin mesin kendaraan awet dan lebih bertenaga. Juga lebih ramah bagi lingkungan,” kata Roby.

 

Pewarta: Yuniati Jannatun Naim
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020



Source link

Kami mencatat konsumsi biosolar di Kepri turun dari 74,6 juta liter menjadi 69,9 juta liter. Menurun sebesar tujuh persen jika dibandingkan tahun lalu.

Batam (ANTARA) – PT Pertamina (Persero) meyakini konsumsi biosolar bersubsidi di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, lebih tepat sasaran saat ini berkat penerapan “fuel card” atau kartu bahan bakar minyak (BBM).

Unit Manager Comm, Rel & CSR Pertamina Marketing Operation Region (MOR) I, Roby Hervindo, Senin, menyatakan indikasi penyaluran tepat sasaran terlihat dari menurunnya konsumsi biosolar subsidi setelah kartu BBM diterapkan pada Januari – Agustus 2020, dibandingkan periode sama sebelum ada “fuel card”.

“Kami mencatat konsumsi biosolar di Kepri turun dari 74,6 juta liter menjadi 69,9 juta liter. Menurun sebesar tujuh persen jika dibandingkan tahun lalu,” kata Roby.

Baca juga: Alih kelola Blok Rokan, Pertamina mulai pengadaan barang dan jasa

Kota Tanjung Pinang menjadi daerah percontohan penerapan mekanisme BBM Biosolar bersubsidi tepat sasaran, melalui “fuel card”.

Untuk mendapatkan biosolar bersubsidi, konsumen harus menunjukkan kartu BBM. Dengan begitu pemerintah dapat mengontrol konsumsi kendaraan roda empat dan roda enam, sesuai dengan kriteria pengguna dalam Perpres no. 191 tahun 2014.

Sebelum mendapatkan “fuel card”, pemilik kendaraan juga harus menunjukkan bukti pelunasan pajak kendaraan. Ini sekaligus mendukung peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) melalui pajak bahan kendaraan bermotor (PBBKB) yang disetor Pertamina kepada Pemrov Kepri.

Baca juga: Pertamina jamin BBM-LPG aman di masa PSBB

Roby menyatakan penggunaan “fuel card” sejak awal tahun lalu juga terbukti menngkatkan PAD Kepri.

Pertamina mencatat hingga Juli 2020, setoran PBBKB Pertamina untuk Provinsi Kepri meningkat menjadi Rp174 miliar, tumbuh hampir 1,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp171 miliar.

Padahal mobilitas masyarakat tengah menurun akibat pandemi COVID-19. “Hal itu disebabkan dengan Fuel Card, hanya kendaraan yang berhak dan sudah membayar pajak yang bisa mengonsumsi Biosolar bersubsidi. Kendaraan lain, kemudian mulai beralih mengunakan BBM berkualitas Pertamina Dex dan Dexlite yang ramah lingkungan dan sesuai dengan peruntukkannya,” kata Roby.

Baca juga: Pertamina dorong penggunaan BBM berkualitas demi turunkan polusi

Pertamina juga mencatat peningkatan konsumsi Dexlite di Kepri, yang melonjak sebesar 48 persen dibanding tahun lalu. Kenaikan serupa juga dialami Pertamina Dex sebesar 22 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Kami mengajak masyarakat untuk terus meningkatkan penggunaan BBM berkualitas seperti Pertamina Dex dan Dexlite. Dengan begitu, masyarakat mendapat manfaat peningkatan PAD untuk pembangunan Provinsi Kepri. Plus penggunaan Dex dan Dexlite, bikin mesin kendaraan awet dan lebih bertenaga. Juga lebih ramah bagi lingkungan,” kata Roby.

 

Pewarta: Yuniati Jannatun Naim
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020