Categories
Berita

Tim Ineos tak segarang dulu, kata bos tim rival


Jakarta (ANTARA) – Tim Ineos tahun ini dianggap tak sekuat biasanya dan akan kesulitan mengendalikan permainan di Tour de France, demikian bos tim EF Pro Cycling Jonathan Vaughters pada Rabu.

Tim asal Inggris itu, dulu bernama tim Sky, telah mendominasi Tour de France dalam satu dekade terakhir, memenangi tujuh dari delapan edisi terakhir dengan Chris Froome merebut titel klasemen umum sebanyak empat kali.

Di saat Froome dan juara 2018 Geraint Thomas tak lagi dilibatkan oleh tim itu tahun ini, pebalap Kolombia Egan Bernal menjadi satu-satunya pemimpin di tim dan berusaha mempertahankan gelar yang ia raih tahun lalu.

Baca juga: Froome dan Thomas dikeluarkan dari skuat Ineos untuk Tour de France

Dari empat etape pembuka, tampak bahwa para rider tim Ineos sering berada di dalam peleton dan jarang memimpin di depan.

Sebaliknya, tim Jumbo-Visma, tim dari favorit juara Primoz Roglic, yang lebih pro-aktif.

“Ineos keluar dari permainannya. Mereka tidak seperti di tahun-tahun sebelumnya,” kata Vaughters dalam interview dengan Eurosport dan GCN seperti dikutip Reuters.

“Akan menjadi balapan yang berat untuk mereka menangi. Jika Bernal menang, yang kemungkinan besar bisa ia lakukan karena saya kira dia akan sangat kuat di pekan ketiga balapan, maka itu akan lebih sebagai kemenangan individu ketimbang tim.

Baca juga: Pinot dan Bernal masih mengintai setelah empat etape Tour de France

Di balik kemenangan tim Ineos atau dulu ketika bernama Sky ada bos mereka, Dave Brailsford dan Nicholas Portal, namun Portal yang merupakan sporting director meninggal dunia pada Maret lalu karena serangan jantung.

Brailsford mengatakan sebelum Tour jika Portal merupakan sosok yang tak tergantikan.

Sementara Jumbo-Visma tampil sebagai penantang utama, Vaughters mengatakan mereka bisa burn out jika tidak berhati hati.

“Jumbo-Visma terlihat tampil lebih baik dan menunjukkan kekuatan mereka lebih awal,” kata Vaughters. “Resikonya mereka bisa membakar diri mereka sendiri dalam 10 hari pertama dan tidak memiliki apa-apa lagi.”

Baca juga: Wout van Aert menangi etape lima Tour de France
Baca juga: Froome dan Thomas akan membalap di Tirreno-Adriatico
Baca juga: Kejuaraan Dunia Road Race 2020 digelar di Imola

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Irwan Suhirwandi
COPYRIGHT © ANTARA 2020



Source link

Jakarta (ANTARA) – Tim Ineos tahun ini dianggap tak sekuat biasanya dan akan kesulitan mengendalikan permainan di Tour de France, demikian bos tim EF Pro Cycling Jonathan Vaughters pada Rabu.

Tim asal Inggris itu, dulu bernama tim Sky, telah mendominasi Tour de France dalam satu dekade terakhir, memenangi tujuh dari delapan edisi terakhir dengan Chris Froome merebut titel klasemen umum sebanyak empat kali.

Di saat Froome dan juara 2018 Geraint Thomas tak lagi dilibatkan oleh tim itu tahun ini, pebalap Kolombia Egan Bernal menjadi satu-satunya pemimpin di tim dan berusaha mempertahankan gelar yang ia raih tahun lalu.

Baca juga: Froome dan Thomas dikeluarkan dari skuat Ineos untuk Tour de France

Dari empat etape pembuka, tampak bahwa para rider tim Ineos sering berada di dalam peleton dan jarang memimpin di depan.

Sebaliknya, tim Jumbo-Visma, tim dari favorit juara Primoz Roglic, yang lebih pro-aktif.

“Ineos keluar dari permainannya. Mereka tidak seperti di tahun-tahun sebelumnya,” kata Vaughters dalam interview dengan Eurosport dan GCN seperti dikutip Reuters.

“Akan menjadi balapan yang berat untuk mereka menangi. Jika Bernal menang, yang kemungkinan besar bisa ia lakukan karena saya kira dia akan sangat kuat di pekan ketiga balapan, maka itu akan lebih sebagai kemenangan individu ketimbang tim.

Baca juga: Pinot dan Bernal masih mengintai setelah empat etape Tour de France

Di balik kemenangan tim Ineos atau dulu ketika bernama Sky ada bos mereka, Dave Brailsford dan Nicholas Portal, namun Portal yang merupakan sporting director meninggal dunia pada Maret lalu karena serangan jantung.

Brailsford mengatakan sebelum Tour jika Portal merupakan sosok yang tak tergantikan.

Sementara Jumbo-Visma tampil sebagai penantang utama, Vaughters mengatakan mereka bisa burn out jika tidak berhati hati.

“Jumbo-Visma terlihat tampil lebih baik dan menunjukkan kekuatan mereka lebih awal,” kata Vaughters. “Resikonya mereka bisa membakar diri mereka sendiri dalam 10 hari pertama dan tidak memiliki apa-apa lagi.”

Baca juga: Wout van Aert menangi etape lima Tour de France
Baca juga: Froome dan Thomas akan membalap di Tirreno-Adriatico
Baca juga: Kejuaraan Dunia Road Race 2020 digelar di Imola

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Irwan Suhirwandi
COPYRIGHT © ANTARA 2020