Categories
Berita

Peraih emas Olimpiade 2016 Ayaka Takahashi pensiun


Jakarta (ANTARA) – Peraih medali emas ganda putri Olimpiade 2016 asal Jepang Ayaka Takahashi tidak akan mempertahankan gelarnya bersama Misaki Matsutomo pada Olimpiade Tokyo tahun depan setelah memutuskan pensiun akhir bulan ini.

Takashi dan Matsutomo mengklaim medali emas ganda putri pertama Jepang pada cabang bulu tangkis dalam Olimpiade 2016 Rio de Janeiro setelah mengalahkan pasangan Denmark Christinna Pedersen dan Kamilla Rytter Juhl.

Takahashi yang memasuki usia 30 tahun itu mengatakan bahwa penangguhan Olimpiade Tokyo merupakan salah satu alasan dia gantung raket. Ia mengaku kondisi tubuhnya mungkin akan menurun jika harus menunggu satu tahun lagi.

“Saya telah memutuskan pensiun pada 31 Agustus karena saya ragu apakah jiwa raga saya akan bertahan hingga tahun depan,” kata Takahashi dalam konferensi pers seperti dikutip Reuters, Kamis.

“Bagi saya, pilihannya, semua hal harus dilakukan sepenuh hati atau tidak sama sekali. Saat saya berlatih, saya berlatih. Saat saya istirahat, saya istirahat.”

Keputusannya gantung raket juga tak terlepas dari persaingan menuju Olimpiade Tokyo tahun depan.

Berdasarkan ranking Race to Olympics BWF, Takahashi/Matsutomo berada pada peringkat keenam atau ketiga terbaik Jepang di bawah Yuki Fukushima/Sayaka Hirota pada urutan kedua dan Mayu Matsutomo/Wakana Nagahara peringkat ketiga.

Sementara, satu negara hanya bisa mengirimkan dua perwakilannya menuju ajang Olimpiade.

Takahashi dan Matsutomo merupakan ganda putri Jepang yang telah berpartner selama lebih dari satu dekade. Terakhir, keduanya bermain di All England pada Maret ketika mengalahkan pasangan peringkat teratas asal China, Chen Qing Chen/Jia Yi Fan untuk melangkah ke semifinal.

“Saya tidak menyesal dengan keputusan ini. Saya sudah berpikir bahwa pertandingan di All England merupakan yang terakhir, dan pada saat itu kami tidak yakin apakah kualifikasi Olimpiade akan berlanjut.”

“Itulah mengapa saya ingin sekali menampilkan permainan terbaik saya dan kami berhasil mengalahkan mereka. Saya bangga dengan segala capaian yang telah saya raih,” tuturnya.

Baca juga: PBSI siap gelar simulasi Piala Thomas-Uber 2020
Baca juga: Mundur dari pelatnas, Tontowi bertekad majukan produk dalam negeri

Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2020



Source link

Jakarta (ANTARA) – Peraih medali emas ganda putri Olimpiade 2016 asal Jepang Ayaka Takahashi tidak akan mempertahankan gelarnya bersama Misaki Matsutomo pada Olimpiade Tokyo tahun depan setelah memutuskan pensiun akhir bulan ini.

Takashi dan Matsutomo mengklaim medali emas ganda putri pertama Jepang pada cabang bulu tangkis dalam Olimpiade 2016 Rio de Janeiro setelah mengalahkan pasangan Denmark Christinna Pedersen dan Kamilla Rytter Juhl.

Takahashi yang memasuki usia 30 tahun itu mengatakan bahwa penangguhan Olimpiade Tokyo merupakan salah satu alasan dia gantung raket. Ia mengaku kondisi tubuhnya mungkin akan menurun jika harus menunggu satu tahun lagi.

“Saya telah memutuskan pensiun pada 31 Agustus karena saya ragu apakah jiwa raga saya akan bertahan hingga tahun depan,” kata Takahashi dalam konferensi pers seperti dikutip Reuters, Kamis.

“Bagi saya, pilihannya, semua hal harus dilakukan sepenuh hati atau tidak sama sekali. Saat saya berlatih, saya berlatih. Saat saya istirahat, saya istirahat.”

Keputusannya gantung raket juga tak terlepas dari persaingan menuju Olimpiade Tokyo tahun depan.

Berdasarkan ranking Race to Olympics BWF, Takahashi/Matsutomo berada pada peringkat keenam atau ketiga terbaik Jepang di bawah Yuki Fukushima/Sayaka Hirota pada urutan kedua dan Mayu Matsutomo/Wakana Nagahara peringkat ketiga.

Sementara, satu negara hanya bisa mengirimkan dua perwakilannya menuju ajang Olimpiade.

Takahashi dan Matsutomo merupakan ganda putri Jepang yang telah berpartner selama lebih dari satu dekade. Terakhir, keduanya bermain di All England pada Maret ketika mengalahkan pasangan peringkat teratas asal China, Chen Qing Chen/Jia Yi Fan untuk melangkah ke semifinal.

“Saya tidak menyesal dengan keputusan ini. Saya sudah berpikir bahwa pertandingan di All England merupakan yang terakhir, dan pada saat itu kami tidak yakin apakah kualifikasi Olimpiade akan berlanjut.”

“Itulah mengapa saya ingin sekali menampilkan permainan terbaik saya dan kami berhasil mengalahkan mereka. Saya bangga dengan segala capaian yang telah saya raih,” tuturnya.

Baca juga: PBSI siap gelar simulasi Piala Thomas-Uber 2020
Baca juga: Mundur dari pelatnas, Tontowi bertekad majukan produk dalam negeri

Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2020